Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping, pada akhir Oktober 2025 menjadi sorotan utama dunia. Kedua pemimpin sepakat untuk menandatangani kesepakatan dagang yang dianggap sebagai langkah besar dalam meredakan ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia. Fokus perjanjian ini meliputi penundaan tarif impor, pengendalian ekspor logam tanah jarang, serta peningkatan kerja sama dalam perdagangan pertanian dan pengawasan fentanyl. Kesepakatan ini menandai potensi stabilisasi ekonomi global yang sempat tertekan akibat perang dagang berkepanjangan.

China dan AS juga sepakat untuk memperpanjang gencatan dagang dan menunda penerapan tarif baru hingga 2026. Penundaan ini memberikan napas lega bagi pelaku pasar, terutama bagi sektor manufaktur dan teknologi yang sebelumnya terkena dampak langsung dari perang dagang. Di sisi lain, pembahasan mengenai semikonduktor dan TikTok menunjukkan bahwa masih ada isu strategis yang belum terselesaikan sepenuhnya. Hal ini membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan gejolak baru, namun sentimen investor mulai beralih ke arah yang lebih positif.

Dari sisi makroekonomi, peningkatan pasokan uang M2 AS sebesar +4,5% YoY hingga mencapai $22,2 triliun juga memperkuat sinyal pemulihan ekonomi. Kenaikan ini berpotensi meningkatkan likuiditas pasar dan mendorong pertumbuhan di sektor berisiko, termasuk saham dan aset digital. Dengan penghentian kebijakan pengetatan kuantitatif (QT) oleh The Fed, pasar global kini memasuki fase risk-on, di mana investor kembali agresif dalam mencari peluang keuntungan di saham dan kripto.

Di sektor kripto, proyek-proyek seperti Chainlink dan Solana ikut diuntungkan dari meningkatnya sentimen positif pasar global. Chainlink terus memperkuat fundamentalnya melalui integrasi data dan smart contract lintas blockchain, sementara Solana menjadi pilihan utama untuk proyek berbasis DeFi dan tokenisasi aset. Keduanya berpotensi menjadi aset beta tinggi yang diincar investor saat pasar kembali bullish di 2026. Dengan prospek adopsi blockchain yang semakin nyata, kombinasi antara faktor makro dan fundamental proyek dapat menjadi penggerak utama kenaikan nilai keduanya.

Secara keseluruhan, sinergi antara stabilitas geopolitik, kebijakan moneter longgar, dan adopsi teknologi digital menjadikan akhir 2025 hingga 2026 sebagai periode penting bagi investor global. Ini bukan sekadar momentum pemulihan ekonomi, tetapi juga transisi menuju sistem keuangan baru berbasis teknologi blockchain dan AI. Bagi investor yang disiplin dan memahami siklus pasar, tahun 2026 bisa menjadi jembatan menuju pertumbuhan aset yang signifikan—baik di pasar saham, forex, maupun kripto seperti Chainlink dan Solana.