Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar, kembali mencetak rekor tertinggi baru dengan menembus level $118.000, mencerminkan lonjakan lebih dari 6% dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Dalam semalam, harga BTC bergerak agresif dari $112.000 hingga mencapai $118.740, mengonfirmasi breakout yang memperkuat momentum bullish. Kenaikan harga ini didorong oleh kombinasi faktor fundamental seperti aliran dana institusional ke exchange-traded funds (ETF), kebijakan akomodatif dari Presiden Trump yang baru terpilih, dan pengurangan pasokan akibat halving Bitcoin pada April 2024. Di saat bersamaan, indeks saham S&P 500, Nasdaq, dan saham Nvidia juga mencatatkan rekor tertinggi, memperkuat narasi bahwa investor sedang merotasi dana ke aset-aset berisiko tinggi yang disokong oleh likuiditas dan spekulasi.
Data on-chain memperlihatkan bahwa reli Bitcoin kali ini belum menunjukkan tanda-tanda overheating. Market Value to Realized Value (MVRV) ratio masih berada di kisaran 2.2, lebih rendah dibandingkan puncak siklus sebelumnya di atas 2.7. Short-term holder SOPR menunjukkan minimnya tekanan jual, sementara indeks posisi miner (MPI) terus menurun—mengindikasikan bahwa penambang lebih memilih untuk menahan BTC daripada menjual. Secara bersamaan, jumlah BTC di bursa kripto telah turun di bawah 11% dari total suplai, terendah sejak 2018. Hal ini memperkuat tesis bahwa likuiditas di pasar spot sedang mengalami pengetatan yang signifikan, menciptakan kondisi yang disebut "slow-burning supply shock."
Keterlibatan institusi kini menjadi katalis utama. ETF spot Bitcoin di AS mencatat inflow harian senilai $1.17 miliar—terbesar kedua dalam sejarah—dengan total kumulatif inflow sebesar $51 miliar di tahun 2025. Pemain besar seperti BlackRock dan Fidelity memimpin pengumpulan BTC, sementara perusahaan seperti Strategy (sebelumnya MicroStrategy) telah mengakumulasi lebih dari 582.000 BTC, atau setara 2,75% dari total suplai maksimum Bitcoin. Presiden Trump turut mendukung adopsi kripto melalui rencana pembentukan cadangan nasional aset digital serta penunjukan regulator yang pro-kripto. Inisiatif seperti ini memperkuat legitimasi institusional terhadap Bitcoin sebagai aset strategis dan lindung nilai terhadap depresiasi mata uang fiat.
Namun, sentimen ekstrem juga memunculkan potensi koreksi jangka pendek. Nilai open interest Bitcoin telah kembali menyentuh angka $70 miliar, yang bertepatan dengan lonjakan harga. Di masa lalu, lonjakan seperti ini diikuti dengan tekanan jual dari posisi short yang mulai menumpuk. Selain itu, pada hari yang sama, terdapat expiry opsi Bitcoin dan Ethereum dengan nilai nominal lebih dari $5 miliar. Put-to-Call ratio lebih dari 1.0 untuk kedua aset mengindikasikan adanya bias bearish dari sebagian pelaku pasar derivatif. Meski demikian, efek expiry ini cenderung bersifat jangka pendek karena pasar segera beradaptasi terhadap struktur harga baru.
Lebih jauh, dinamika pasokan Bitcoin kian menarik. Setelah halving keempat pada April 2024, reward block Bitcoin hanya 3.125 BTC, menurunkan tingkat inflasi tahunan di bawah 1%. Bersamaan, lebih dari 70% suplai Bitcoin tidak berpindah selama lebih dari satu tahun, dan 93% dari total 21 juta suplai telah ditambang. Ini menandakan bahwa jumlah BTC yang tersedia untuk diperdagangkan semakin sedikit, dan dengan meningkatnya akumulasi institusi, tekanan terhadap pasokan akan semakin terasa. Secara historis, hal ini telah menciptakan kondisi langka yang memicu lonjakan harga eksplosif dalam siklus pasar sebelumnya.
Tantangan tetap ada. Tingginya konsentrasi kepemilikan pada wallet institusi seperti ETF, exchange besar, dan perusahaan publik memunculkan kekhawatiran tentang sentralisasi kepemilikan. Namun, banyak analis berargumen bahwa hal ini mencerminkan kepercayaan jangka panjang, bukan niat untuk spekulasi jangka pendek. Di tengah tekanan regulasi global dan kekhawatiran ESG, adopsi Bitcoin terus bergerak maju, dengan lebih dari 59% manajer aset global melaporkan memiliki alokasi 10% ke kripto pada portofolio mereka.
Secara teknikal, target psikologis terdekat adalah $120.000, diikuti dengan resistance kunci pada $125.000 dan $135.000. Namun, risiko koreksi teknikal tetap perlu diwaspadai apabila tekanan jual derivatif dan aksi ambil untung meningkat. Keseimbangan antara adopsi institusional, penurunan pasokan, dan spekulasi derivatif akan menentukan apakah fase berikutnya akan mengarah ke akumulasi lebih lanjut atau koreksi sementara. Terlepas dari itu, narasi dominan saat ini adalah bahwa Bitcoin memasuki fase baru: bukan sekadar aset spekulatif, melainkan infrastruktur keuangan global dengan tingkat kelangkaan riil dan daya tarik institusional yang belum pernah terjadi sebelumnya.


0 Komentar